Nyepi 1932, apa maknanya bagimu?

Aum Bhur Bvah Svah, tat savitur varenyam, bhargo dewasya dimahi, dhyo yo nah praco dayat.

Perayaan Nyepi kali ini sungguh istimewa karena setelah 10 tahun tinggal di Jogja baru kali ini saya mengikuti Upacara Wisuda Bumi yang dihadiri oleh para pejabat tingkat nasional hingga lokal. Yang hadir antara lain Menteri Agama, Surya Dharma Ali, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, Bupati Surakarta, Klaten dan Sleman, dan para pejabat di lingkungan organisasi Hindu mulai dari Parisadha Pusat hingga Daerah Jateng-DIY. Selain karena memang acara perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1932 ini secara nasional dipusatkan di Candi Prambanan DIY, kehadiran para pejabat ini merupakan satu bentuk penghargaan yang patut diapresiasi oleh Umat Hindu. Ini merupakan tauladan dari pemimpin yang menunjukkan bahwa tolernsi dan tepo seliro diantara umat beragama masih dan harus tetap dijaga dengan baik.

Nyepi kali ini mengusung tema Perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1932 sebagai momentum penyadaran diri untuk mempererat persaudaraan untuk memajukan bangsa (kurang lebih sih begitu… abis spanduknya ketutupan “pajeng”😀 ). Tema ini rasanya sangat tepat ditengah hangatnya suhu politik dan isu keamanan di Indonesia pasca kasus Bank Century dan tertembaknya Dulmatin, teroris yang paling dicari di seluruh Indonesia. Suhu politik yang menghangat ini ditandai dengan banyaknya kerusuhan di berbagai daerah akibat ketidakpuasan sebagian orang terhadap sistem yang berjalan yang kemudian mengapresiasikan pendapatnya melalui jalan-jalan kekerasan dan anarki. Tentu saja ini berpotensi untuk meningkatkan pikiran-pikiran negatif yang seharusnya justru dikurangi. Umat Hindu harus bisa mengendalikan diri agar tidak terpancing untuk melakukan perbuatan yang hanya akan menghasilkan karma buruk.

Yang membahagiakan adalah dukungan eksplisit dari Menteri Agama dan Gubernur Jateng untuk menjadikan situs-situs budaya yang memiliki nilai spiritual – termasuk Candi Prambanan – sebagai pusat kegiatan kerohanian umat beragama. Jadi dengan demikian, situ-situs ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan dengan Kementrian Keagamaan. Artinya, kami tidak lagi diperlakukan seperti wisatawan – namun sebagai bhakta – saat akan beribadah di situs-situs tersebut.

Makna Perayaan Nyepi

Saya sangat sependapat dengan yang disampaikan oleh Bapak Gubernur Jateng dalam sambutannya, bahwa Upacara Tawur Agung Kesanga bertujuan untuk mensucikan alam sebagai wujud syukur kita atas apa yang sudah kita nikmati dari alam. Upacara ini juga bermaksud untuk mengembalikan keharmonisan alam yang sejauh ini semakin tidak seimbang sebagai akibat ekspliotasi (berlebihan) oleh manusia. Itu secara makrokosmos.

Secara mikrokosmos, ini adalah momentum kita untuk merenungkan kembali tujuan hidup. Moksartham jagadhita ya ca iti Dharma. Kita hidup adalah untuk melaksanakan dharma (kebenaran, kebaikan) untuk mencapai Moksa (menyatu dengan Sang Pencipta). Jaman Kaliyuga seperti ini memberikan banyak sekali kemudahan bagi kita untuk memanjakan Panca Indria, menikmati berbagai kesenangan. Berbagai cara – bahkan cara-cara yang tidak dibenarkan pun – ditempuh untuk bisa menikmati berbagai kesenangan duniawi. Kita lupa untuk memberi makan rohani, karena terlalu sibuk dengan urusan jasmani yang lebih kasat mata. Semakin larut dengan ini, semakin jauh kita dari tujuan hidup. Moksa (kebebasan dari ikatan duniawi, menyatu kembali dengan Sang Pencipta) hanya bisa dicapai bila pikiran kita bebas dari keterikatan, bebas dari rasa ingin memiliki, bebas dari rasa ingin menikmati, bebas dari ego. Pikiran bisa bebas bila “diri kita yang sebenarnya” mampu mengendalikannya. Nyepi adalah momentum untuk mencari Sang Jati Diri, mengenalnya lebih jauh untuk kemudian menguatkannya agar mampu mengendalikan pikiran.

Jadi, Nyepi bukan sekedar menyepi dari aktivitas sehari-hari atau dari pergaulan dengan kerabat dan teman. Nyepi bukan sekedar mengarak Ogoh-ogoh keliling kampung, lalu setelah itu tawuran dengan anak kampung sebelah karena Ogoh-ogoh mereka “melanggar batas desa kita”. Nyepi bukan sekedar diam di rumah, tidak menyalakan lampu, tapi lalu ngobrol dengan sanak saudara membahas keburukan orang lain. Nyepi bukan sekdar menahan lapar dan dahaga, tapi pikiran melayang kemana-mana; “besok buka puasa dengan makanan yang enak-enak”, “bunga deposito saya sekarang jadi berapa”, “apa sebaiknya pemilik toko sebelah saya tuntut saja karena area tokonya sudah melanggar batas tanah saya…”, “pasien saya yang itu kan konglomerat, jadi tidak apa-apa kalau saya resepkan obat yang mahal-mahal. Bonusnya bisa untuk bayar cicilan rumah…”, dan seterusnya.

Catur Brata (4 jenis puasa atau pengendalian diri yang harus dilakukan oleh Umat Hindu) bukanlah sekedar puasa lahiriah. 1) Amati Geni (tidak menyalakan api) maknanya adalah harus memadamkan segala nafsu yang menguasai pikiran. Nafsu untuk menikmati kesenangan duniawi yang sifatnya lahiriah maupun batiniah. Saya pernah membaca kata-kata bijak: dalam diri tiap manusia ada serigala baik dan serigala jahat. Yang hidup, tumbuh dan menjadi kuat adalah yang diberi makan. Jadi jika sifat pemarah, iri dengki, pemalas dan sebagainya yang kita “beri makan”, kita sudah tau manusia berkualitas apa kita jadinya.  2) Amati lelungan (tidak bepergian) , berhenti sejenak dari aktivitas hubungan dengan kehidupan di luar diri, untuk lebih mengenal Sang Diri yang ada di dalam.  3) Amati Karya (tidak bekerja), yaitu tidak melakukan pekerjaan yang hanya mengingatkan kita pada pemenuhan kebutuhan duniawi (yang akan merusak konsentrasi dan usaha Sang Diri untuk mengendalikan pikiran) dan tidak mengekploitasi alam secara berlebihan atas nama peningkatan perekonomian, 4) Amati lelanguan (tidak bersenang-senang), apalagi jaman sekarang banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk bersenang-senang di dunia nyata maupun dunia maya. Jika kita berhasil berpuasa (baca: mengendalikan keempat hal tersebut) maka artinya kita sudah belajar untuk mengendalikan pikiran. Kita akan menjadi lebih seimbang dan kembali ke Titik Nol.

Secara makro, jika seluruh Umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan benar dan sungguh-sungguh, maka dampaknya akan sangat luar biasa. Alam akan menjadi lebih seimbang, karena ada waktu untuk istirahat dan recovery selama 24 jam dari aktivitas eksploitasi. Apalagi jika ini dilakukan oleh seluruh umat manusia dalam intensitas yang lebih sering, kehamonisan alam akan bisa dicapai.

Nyepi dan Green Life Style

Jika kita maknai secara mendalam mengenai Catur Brata Penyepian, maka sesungguhnya akan terlihat hubungan yang sangat erat antara pelaksanaan ajaran Hindu dengan kelestarian lingkungan. Tri Hita Karana merupakan konsep yang mengajarkan kita untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan 1) Sang Pencipta, 2) sesama manusia, dan 3) makhluk lain yang menghuni alam semesta ini, baik yang terlihat oleh mata maupun tidak. Jika manusia menyakiti alam dan makhluk lain, artinya manusia sedang memutuskan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Jika alam diekploitasi berlebihan, bencanakan hasilnya. Manusia harus bisa menjadi seperti kupu-kupu yang menghisap sari bunga tanpa merusak bunganya, sambil ia sendiri menjadi penghias alam. Melaksanakan Catur Brata Penyepian adalah salah satu aplikasi dari pelaksanaan konsep ini, dimana sisi spiritual kita diasah dengan berlatih mengendalikan pikiran dan berkonsentrasi pada-Nya, sedangkan sisi jasmaniah kita diasah pula agar tidak selalu menuruti kemauan Pikiran yang hanya akan menjauhkan kita dari-Nya. Usai Nyepi diharapkan hati kita bersih kembali, pikiran bersih dan seimbang, kembali ke Titik Nol. Hubungan dengan sesama manusia dipulihkan dengan saling memaafkan. Hubungan dengan alam otomatis menjadi lebih harmonis dengan berhentinya aktivitas eksploitasi alam dan semua mahluk di dalamnya meskipun hanya sejenak.

Jadi dengan melaksanakan Nyepi, Umat Hindu juga mendukung upaya pengurangan pemanasan global. Dengan Amati Karya dan Amati Lelungan, berarti tidak ada konsumsi listrik dan BBM. Dengan Amati Lelanguan, berarti tidak ada kendaraan bermotor di jalan sehingga konsumsi BBM jauh berkurang dan polusi udara bertenti sejenak. Dengan Amati Geni berarti tidak makan dan minum, menjaga emosi, mengendalikan diri, mengurangi sifat konsumtif. Produksi limbah (termasuk sampah rumah tangga) jauh berkurang.

Tulisan ini adalah hasil pemahaman saya yang masih sangat dangkal tentang makna Nyepi bagi umat manusia yang mempercayainya. Tentu saja ada banyak kekurangan dalam tulisan ini, dan jika ada pembaca yang mau berbaik hati untuk memberikan pencerahan kepada saya, tentu saja saya akan sangat berterima kasih.

Akhirnya, saya ingin mengutip kata-kata dari sebuah kartu yang beredar saat mengikuti rangkaian persembahyangan di Candi Prambanan “be a hero, save the world by doing nothing”.

Selamat merayakan Nyepi dan selamat Tahun Baru Caka 1932 bagi saudara-saudaraku umat Hindu di seluruh dunia. Aum Namo Ciwa ya. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

3 Responses

  1. Nyepi bagi saya adalah titik dimana alam dapat beristirahat sejenak dari segala “sampah” yang manusia limpahkan.
    Sebuah hari yang dapat digunakan bagi kita untuk lebih memaknai hidup, keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhannya.
    Waktu dimana kita harus me-recharge kembali paradigma kita, bahwa hidup itu perlu berhemat, selalu mampu menguasai diri, serta mengistirahatkan diri dan jiwa….

  2. Nyepi identik dengan kata “sepi” secara macro kita lakukan dengan 4 brata penyepian (di Bali) di luar daerah mungkin baru 1-2 brata penyepian. Tetapi juga secara micro yaitu pada diri kita sendiri. Melakukan pengendalian diri, mulat sarira, dan beritikad untuk berbuat yang lebih baik di Tahun Baru yang akan datang. Nyepi hanyalah salah satu dari sekian banyak hari raya/suci yang bisa kita jadikan tonggak atau pun titik balik dari hal-hal negative yang pernah kita lakukan menjadi hal-hal yang lebih positive.

    Sayangnya saat nyepi aku sakit, dimulai sejak abis malam pengerupukan..jadi tidak bisa menjalankan upawasa secara full tetapi bisa melakukan mona brata lebih banyak. Dan aku syukuri itu sebagai titik balik dari “fisik” ku sendiri setelah 1 tahun sebelumnya dipakai bekerja en mesti masuk bengkel utk perawatan 2-3 hari untuk kembali segar beaktifitas di tahun baru caka ini.

    Mudah-mudahan taun ini aku bisa mencapai hal-hal yang lebih baik dari taun sebelumnya en akan jauh lebih baik lagi di taun-taun mendatang..sampe akhirnya nanti …MOKSA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: