Go Green, because you can!

Jogja panaaas”. “Uugh…, AC-nya kok ndak dingin ya? *kipas-kipas mode: on*”. “Gila, di luar panas banget bo!”

Kalimat kayak gini dah biasa banget terdengar di telinga, atau jadi status seseorang di Facebook, akhir-akhir ini. Tapi banyak diantara kita yang sekedar berkomentar atau mengeluh, tanpa benar-benar peduli tentang mengapa udara jadi lebih panas. Saat Al Gore pidato tentang global warming, saat film 11th hours ditonton oleh masyarakat diberbagai belahan bumi, dan saat berbagai media membahas isu pemanasan global ini sehingga menjadi perhatian dunia, kita semua ikut larut dengan topik ini.  Saat itu kita merasa ikut bertanggung jawab dan mengikrarkan komitmen untuk hidup hemat energi. Namun beberapa minggu kemudian, kita seperti lupa pada apa yang sudah menjadi komitmen bersama. Kita kembali pada gaya hidup lama: boros energi! Seandainya bumi bisa bicara, dia menuntut kita untuk memenuhi janji-janji yang dulu pernah kita obral tentang hemat energi.

Untunglah banyak diantara kita yang selalu konsisten memperjuangkan bumi yang lebih “hijau” sehingga lebih nyaman untuk ditempati. Ada banyak LSM yang konsisten berjuang dibidang lingkungan hidup dengan memerangi illegal lodging dan menuntut pihak-pihak yang menyebabkan pencemaran tanah-air-udara. Ada Pemerintah yang mulai peduli dan membuat kebijakan tentang standar gas emisi buang pada mesin pabrik hingga kendaraan pribadi agar tidak melebih ambang batas aman. Di Indonesia sendiri pemerintah di beberapa daerah sudah mulai menerapkan car free day sebagai upaya untuk mengurangi polusi udara, meskipun efektifitasnya belum terukur (mudah-mudahan karena ini langkah awal *baca: mudah-mudahan akan ada kebijakan yang lebih besar dari ini*).

Sebagai individu dalam suatu kelompok masyarakat, kita pun bisa berperan secara aktif dalam mengurangi beban bumi. Tidak perlu menggalang sumber daya untuk menanam 1000 pohon, atau mengumpulkan massa untuk mendemo perusahaan pencemar lingkungan, jika kita tidak mampu melakukannya. Partisipasi kita bisa dilakukan dengan cara-cara yang paling sederhana di rumah dan lingkungan sekitar. Mulai dari anak-anak, pembantu rumah tangga, kakak-adik, suami-istri, semua semua pasti bisa melakukan langkah-langkah penghematan energi.

  1. Nyalakan lampu seperlunya dan gunakan lampu hemat energi. Memang harga belinya lebih mahal, namun dalam penggunaan sehari-hari akan sanggup menghemat biaya dibandingkan dengan menggunakan lampu yang tidak hemat energi. TV, Radio, player dan sebagainya sebaiknya benar-benar dalam kondisi off, bukan sekedar stand by saat tidak digunakan. Karena posisi stand by – apalagi berjam-jam – selain berpotensi merusak alat tersebut juga boros karena listriknya terus mengalir. Jika hanya 1 alat, mungkin tidak terasa. Tapi bayangkan jika setiap rumah ada 1 TV, dalam 1 RT ada 30 rumah, berapa banyak listrik terbuang percuma – hanya dari 1 RT?
  2. Masih soal listrik, hal yg kita anggap sepele adalah charger HP. Kita biasa membiarkan charger menggantung di colokan listrik berjam-jam, bahkan berhari-hari meskipun HP-nya sudah selesai di re-charge. Sama sekali tidak terasa bahwa itu adalah tindakan yang sangat menyia-nyiakan listrik. Bayangkan jika setiap orang berperilaku seperti itu, berapa banyak listrik yang terbuang sia-sia? Intinya, cabut semua peralatan listrik dari steker jika memang tidak digunakan.
  3. Air. Saya sedih sekali tiap kali nemu keran air yang terus menerus mengalirkan air tanpa bisa ditutup karena rusak L. Hari gini buang-buang air? Meskipun itu adalah air sumur bor yang tidak kita beli, tapi kalau keran bocor berhari-hari, air yang terbuang jadi banyak juga kan.. Padahal air sumur bor itu asalnya dari sungai bawah tanah yang sambung menyambung di berbagai wilayah dan berfungsi untuk: menjaga kelembaban tanah, menjaga keseimbangan ekosistem, dsb. Jadi jangan biarkan keran di rumah bocor, sekecil apapun.
  4. Selain menutup semua keran saat tidak digunakan, kita juga bisa menghemat penggunaan air misalnya dengan tidak berlama-lama mandi (bukan berarti ga perlu mandi….), mandi pakai shower akan lebih hemat daripada pake bak +gayung, mendaur ulang air misalnya air bekas mencuci sayuran digunakan untuk menyiram tanaman. Jika hanya membutuhkan 1 gelas air untuk menyeduh kopi, tidak perlu memanaskan 1 liter air. Sedapat mungkin mencuci pakai tangan, gunakan mesin hanya kalau sudah memenuhi kapasitasnya (misalnya 7 kg, atau 9 kg, kalau hanya mencuci 3-5 helai pakaian tidak perlu pakai mesin kan).
  5. Hemat penggunaan kertas. Tahukah anda bahwa kertas asalnya dari pohon? Semakin boros kita pakai kertas semakin banyak pohon yang harus ditebang, padahal pohon kan tumbuhnya lamaaa… Jadi untuk di kantor, gunakan kedua sisi kertas sebelum kertas benar-benar dibuang. Untuk memo internal, atau mencetak draft dokumen (yang akan dicoret sana sini dan direvisi) tidak perlu pakai kertas baru kan? Untuk di rumah, biasanya penggunaan kertas tidak terlalu banyak. Paling-paling dipake sbg media menggambar anak-anak. Bisa saja kita bawa kertas bekas dari kantor – yang sudah tidak dipakai – untuk sisi sebelahnya digambari oleh anak-anak kita, atau untuk mencatat resep masakan.
  6. Say no to kantung plastik (yang sekali pakai). Bukan berarti nggak boleh pake plastik sama sekali, tapi pikirkan apakah kita benar-benar memerlukannya atau tidak. Usahakan kantung kain/kanvas/plastik yang bisa dipakai berulang-ulang selalu ada dalam tas yang kita bawa. Sehingga setiap kali pulang kerja/sekolah kalau mau mampir belanja di toko/warung/pasar/swalayan, kita bisa bilang sama mbak/mas yang di kasir “tidak usah pakai plastik, saya bawa tas sendiri”. Saya sering ditertawai oleh kasir, “mbak, ini kantungnya ga perlu dibayar kok”. Tapi menurut saya “bukan karena gratis atau saya mampu beli lalu saya bisa seenaknya memboroskan kantung plastik”. Kalau kita menggunakan kantung plastik itu untuk membungkus sesuatu, paling lama umurnya 1-2 jam. Setelah itu? Disimpan untuk digunakan lagi? Dibuang? Kalau dibuang ke tempat sampah lalu dibakar, akan menimbulkan polusi udara. Kalau ditimbun dalam tanah, 1 buah kantung plastik memerlukan waktu seratusan tahun untuk benar-benar hancur dan hilang dari unsur tanah. See? Semakin sedikit kita memakai dan membuang kantung plastik, semakin berkurang beban bumi untuk mendaur-ulangnya.
  7. Hindari styrofoam. Kalau plastik masih bisa didaur ulang meskipun cuma sekali, styrofoam sama sekali tidak bisa didaur ulang. Sekali ia diproduksi, digunakan, lalu dibuang maka seterusnya ia akan mencemari udara (jika dibakar) dan atau tanah (jika ditimbun). Kita sebagai konsumen bisa menekan para supplier makanan yang masih sering mengemas makanannya dengan styrofoam, dengan cara menolak makanan yang dibungkus dengan styrofoam. Gerakan konsumen mulai dari yang kecil, jika terus dipelihara dan dilanjutkan, akan mampu menekan angka penggunaan styrofoam. Ini berlaku juga untuk kemasan lainnya. Kita bisa mengurangi atau tidak mengkonsumsi sama sekali produk-produk yang dikemas dengan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan.
  8. Makanan. Mengapa orang-orang tua kita selalu mengajarkan kita untuk menghabiskan makanan kita? Selain terkait dengan nilai-nilai agama, ternyata hal ini juga berperan dalam upaya penghematan energi. Bagaimana bisa? Jika kita menghabiskan makanan, maka upaya untuk membersihkan sisanya juga akan minimalis. Selain itu, penyedia makanan (yang memasak) juga akan bisa berhitung berapa sebenarnya besar porsi kita, sehingga tidak perlu memasak berlebihan hanya untuk kemudian dibuang.
  9. Mengurangi konsumsi produk import. Mengapa? Karena import berarti didatangkan dari luar. Makin jauh asalnya, makin panjang perjalanan produk tersebut untuk sampai ke kita, makin banyak bahan bakar yang dipakai untuk mengangkutnya. Jadi, kalau ada buah jeruk lokal, kenapa harus beli yang import?
  10. Omong-omong soal transportasi, kita bisa memilih kendaraan yang paling hemat energi yang terjangkau oleh kaki dan saku kita. Kalau masih bisa jalan kaki/mengayuh (pakai sepeda dayung) mengapa harus pakai motor/mobil? Kalau bisa pakai bis/kendaraan umum, mengapa harus pakai kendaraan pribadi? Kalau bisa beli motor/mobil yang hemat bahan bakar, kenapa harus beli yang boros?

Prinsipnya; kita membeli/memakai bukan semata-mata karena harganya terjangkau, tapi karena memang kita butuhkan. Kalau tidak butuh, tidak usah dipakai apalagi sampai terbuang sia-sia.  Sederhana sekali, bukan? So, let’s go green, because you can!!

2 Responses

  1. Coba cek link berikut mengenai hal2 kecil yang baik: http://www.worldwatch.org/taxonomy/term/44
    download aja filenya.😀

    Kiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: