Guidelines Kontrol terhadap Rabies – Standar USA

Terkait dengan maraknya kasus rabies yang muncul di Bali dan daerah lain (hare gene banyak rabies??) saya tertarik untuk mereview artikel yang ditulis oleh Keith Sikes berikut ini sebagai salah satu referensi dalam penanggulangan kasus rabies. Memang Depkes telah membuat protap yang sudah disosialisasikan ke RS-RS, namun tidak ada salahnya kita membuka jendela untuk memasukkan lebih banyak angin pengetahuan ke dalam sel-sel otak kita.

Artikel yang ditulis oleh Sikes dan timnya ini dipublikasikan pada tahun 1970. Sudah tua sekali, karena memang kasus rabies di Amerika sudah sangat lama berhasil diberantas. Pada waktu itu setiap tahun da 500.000 orang yang tergigit hewan dan 30.000 diantaranya teridentifikasi sebagai rabies. Pemerintah Amerika kemudian membuat program kontrol rabies yang melibatkan unsur-unsur dari pemerintah kabupaten/kota, hingga negara bagian, dokter hewan hingga dokter umum praktek swasta untuk mengembangkan guideline yang kemudian digunakan oleh para dokter hewan dan dokter umum dalam praktek penganggulangan rabies.

Prinsip Kontrol

Ada tiga tipe kontrol yang diterapkan, yaitu kontrol terhadap hewal peliharaan, kontrol terhadap hewan liar dan kontrol terhadap manusia.

Kontrol terhadap hewan peliharaan cenderung mudah dilakukan, misalnya dengan program vaksinasi terhadap hewan yang positif rabies dari hasil pemeriksaan lab, dan menyingkirkan hewan-hewan yang tak bertuan atau yang tak diinginkan. Kontrol terhadap hewan liar lebih sulit dan diprioritaskan pada hewan-hewan mamalia yang hidup di darat. Sedangkan kontrol terhadap manusia dilakukan dengan membatasi kontak dengan hewan yang berpenyakit, imunisasi bagi orang yang sudah terekspos dengan hewan berpenyakit dan terapi terhadap luka akibat gigitan hewan.

Metode Kontrol terhadap Hewan-hewan Peliharaan dan Hewan yang Dikurung

Pre-exposure

  • Anjing. Semua anjjing yang berusia antara 3 -5 bulan harus divaksinasi dengan vaksin yang sudah distandarisasi pemerintah (Departemen Pertanian) dan divaksin ulang setahun kemudian. Anjing dewasa divaksin menggunakan Low Egg Passage-Chicken Embryo Origin (LEP CEO). Vaksin tersebut dicek oleh petugas kesehatan dan harus mampu memberikan perlindungan selama 3 tahun. Vaksin lain boleh digunakan asalkan memberikan perlindungan sedikitnya selama setahun, dan setelahnya harus divaksin ulang. Setelah divaksin, hewan harus dibiarkan dalam kandang atau kurungan selama sedikitnya sebulan.
  • Kucing. Semua kucing harus divaksin segera dengan vaksin anti rabies khusus untuk kucing, saat mereka berusia 5-6 bulan. Dapat menggunakan vaksin yang tidak mengandung strain LEP-flurry.
  • Ternak. Untuk hewan ternak, diharuskan menggunakan vaksin yang mengandung LEP-Flurry. Vaksin yang dibuat dari kultur jaringan ginjal babi bisa memberikan perlindungan selama 4 tahun.
  • Hewan lain. Yang dimaksud dengan hewan lain disini adalah hewan-hewan yang ada di kebun binatan dan hewan yang digunakan dalam acara pameran/exhibit tertentu serta hewan liar dan hewan-hewan yang eksotik.
  • Untuk hewan berdarah panas yang ada di kebun binatang bisa saja kontak dengan vektor lokal dan tertular rabies. Hewan-hewan yang ada di pameran akan banyak kontak dengan pengunjung, sehingga harus dikarantina selama 90 hari dan harus mendapat vaksin setidaknya sebulan  sebelum ditaruh diruang pameran. Vaksin yang digunakan adalah vaksin yang sudah dilisensi dan dosisnya disesuaikan dengan petunjuk pabrikan. Namun perlu dipertimbangkan adanya kemunginan perubahan strain virus dari vaksin yang dapat terjadi pada hewan selain anjing.
  • Hewan liar. Jika ada masyarakat yang suka memelihara mamalia liar yang eksotik, maka hewan-hewan tersebut harus dikarantina minimal 90 hari setelah ditangkap dan divaksinasi minimal 30 hari sebelum dipelihara di rumah, dengan vaksin yang sesuai dengan jenis hewannya.

 

Sumber: Keith Sikes, 1970. Guidelines for the control of Rabies

 

Kontrol terhadap Hewan tanpa Pemilik

Hewan yang tidak ada pemiliknya tidak boleh dibiarkan berkeliaran, terutama di daerah tempat kejadian rabies. Petugas kesehatan atau dari dinas peternakan dapat mendorong dina sterkait untuk mengefektifkan penangkapan hewan liar. Akan lebih efektif lagi jika para pemilik hewan peliharaan dapat menjaga peliharaannya agar tidak berkeliaran di area terbuka/umum tanpa didampingi pemilik. Hewan tanpa pemilik yang ditangkap oleh petugas harus dikandangkan dulu minimal selama 3 hari sebelum dimusnahkan (sesuai dengan peraturan yang berlaku), untuk memberi kesempatan pada pemilik mengklaim hewan peliharaan tersebut. Kucing atau anjing tanpa pemilik yang telah ditangkap tidak boleh diperjualbelikan atau diadopsi sebelum divaksinasi oleh dokter hewan.

Tulisan selanjutnya: Karantina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: