Belajar Iklas

Dedicated for someone who patiently teach me everything as much as I want to learn

Saya sedang belajar melakukan segala sesuatunya dg iklas. Ternyata sulit sekali ya… perlu ditanamkan ke dalam benak dalam-dalam supaya selalu teringat saat akan mengucapkan atau melakukan sesuatu terutama yg terkait/berimbas ke orang lain. Karena saya masih pemula, maka saya start dari titik yg paling mudah menurut saya: melakukan sesuatu yang baik untuk orang yang baik (at least orang yg menurut feeling saya baik). Sementara yg paling sulit adalah melakukan sesuatu yang baik untuk orang yang super super jahat, khususnya bila korban kejahatannya adalah diri kita sendiri. Memang akhirnya saya jadi pilih-pilih, siapa kira-kira “korban” saya berikutnya. “Calon korban” saya harus punya kualitas yang saya perlukan yaitu baik menurut norma umum.

Sebenarnya istilah “pilih-pilih” ini kurang tepat juga. Saya punya teori bahwa “aura” kita akan menarik orang-orang yang punya “aura” sejenis. Misalnya kalau kita orangnya humoris, suka becanda, dan suka mencoba hal-hal yg baru, maka sadar atau tidak sadar orang-orang disekeliling kita – mulai dari yg agak dekat hingga yg sangat dekat – pasti punya karakteristik dan interest yg mirip (minimal sekian persennya sama lah). Sebaliknya, jika kita adalah orang yang selalu serius, pendiam biasanya orang-orang yang mendekat ke kita adalah yang serius-serius (karena yang suka becanda biasanya ga betah sama yang serius tiada henti). Jadi sebenarnya bukan kita yang memilih teman, melainkan ada hukum alam berupa gaya tarik menarik antara orang dengan karakter sejenis dan gaya tolak menolak antara orang dengan karakter yang sangat berbeda. 

Kembali ke masalah “berbuat kebaikan dengan iklas” tadi, yang saya maksudkan dengan iklas adalah tidak ada pamrih dalam bentuk apapun yang mengikuti perkataan/perbuatan baik yang telah dilakukan. Dalam melakukan kebaikan, potensi pamrih yang bisa muncul antara lain:

1. ingin mendapat imbalan jasa (materi)

2. ingin dipandang sebagai orang yang baik (citra positif)

3. ingin membina hubungan baik (mengharapkan manfaat yang bisa dirasakan dikemudian hari)

4. ingin diperhitungkan amalnya oleh Sang Pencipta, sesuai keyakinan yg dianut

5. dan “ingin-ingin” yang lainnya

Sedangkan perkataan/perbuatan tanpa pamrih adalah sesuatu yang kita katakan/lakukan tanpa mengharapkan satu pun dari keinginan di atas. Sesuatu yang kita katakan/lakukan karena ada orang/mahluk lain yang membutuhkan dan kita punya sumber daya (tenaga, materi, waktu, pikiran) yang bisa digunakan untuk membantu orang/mahluk tersebut. Singkatnya “saya membantu anda karena saya bisa”. Belum tentu saya bisa, tapi setiap orang punya potensi untuk bisa melakukannya.

adek & kucingSaya punya contoh konkrit tentang hal ini. Saat adik bungsu saya masih kuliah dan tinggal di kos-kosan, dia pernah memelihara kucing. Anak ini memang pecinta kucing banget. Tapi sebenarnya dia tidak memelihara kucing itu. Kucing itulah yang dengan sukarela datang ke kamarnya, lalu adik saya menyediakan space di kamarnya nan sempit dan sumpek bagi si kucing agar bisa tidur senyaman mungkin. Adik saya bahkan membeli makanan khusus kucing di supermarket, selain tetap berbagi nasi bungkus dengan si kucing jika dia membawa pulang makan siang/malamnya. Jika si kucing bosan di kamar, dia akan maen keluar, kadang beberapa hari tidak kembali. Adik saya tidak pernah mencari, karena dia menjalin hubungan pertemanan dengan kucing itu tanpa keterikatan. Dia tidak pernah merasa memiliki kucing itu, dan tidak pernah mewajibkan si kucing untuk selalu ingat – apalagi berbakti – padanya, meskipun sudah diberi makan dan tempat tinggal. Sesayang apapun adik saya pada kucing tersebut, si kucing tetap milik dirinya sendiri dan bebas datang dan pergi kapanpun dia mau. Ini yang saya sebut sebagai perbuatan iklas; menolong si kucing untuk tetap hidup sampai si kucing merasa cukup dan mampu hidup sendiri, tanpa mengharapkan balasan kasih sayang dari si kucing. Mampukah saya melakukannya pada sesama manusia ditengah-tengah ego yang seringkali memuncak?

Itu yang ingin saya latih. Untuk itu saya perlu sasaran tembak. Sasaran yang paling gampang bagi saya saat ini adalah orang baik. Sudah selayaknya saya mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang sudah memberi kesempatan pada saya untuk berlatih. Meskipun setelah beberapa tahun mencoba, masih lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Salah satu kegagalan utama saya adalah karena adanya keinginan untuk dicap sebagai orang yang baik (aaaarrrgh…..!!!). Kegagalan yang lain adalah karena sesungguhnya saya – jauh di lubuk hati yang paling dalam – ternyata masih sering mengharapkan pamrih. Saya berharap mendapatkan kasih sayang seperti kasih sayang yang saya berikan. Saya tidak bisa menahan rasa sedih saat seorang teman baik meninggalkan saya. Artinya saya mengharapkan hubungan timbal balik; saat saya berbuat kebaikan pada seorang teman saya berharap sang teman juga berbuat kebaikan pada saya dengan cara menjadi teman saya, mengingat saya, sayang pada saya dan tidak meninggalkan saya. Ini suatu pamrih juga, kan? Bukan karakter seperti ini yang ingin saya bentuk dalam diri saya. Untunglah saya masih pemula (ngeles mode: on). Semoga masih banyak kesempatan lainnya yang akan saya temui dikehidupan mendatang untuk melatih keiklasan saya sebagai manusia yang diberkati dengan berbagai hal untuk menolong manusia/mahluk lain.

Semoga kebaikan datang dari segala penjuru

3 Responses

  1. ah, itukan perasaan mbok saja…
    belajar membedakan benar dan baik itu juga merupakan keiklasan, ke ikhlasan juga harus dibarengi dengan keyakinan.. orang bule dalam sepotong lirik lagunya mengatakan “It can be a miracle, if you believe.” Keajaiban akan terjadi, jika Anda meyakininya..

  2. Bagaimanapun juga, niat adalah perkataan hati, jika niat sudah benar hasil iklasnya pasti benar Sebagian orang berkata : “Diriku tidak pernah berperang melawan sesuatu seperti perangnya menghadapi keikhlasan.” Kita memohon keikhlasan dalam niat dan kebaikan dalam amal kepada Allah bagi kami dan juga bagi kalian semua

    • Terima kasih komentarnya Pak Eka. Semoga kita selalu bisa memanfaatkan kesempatan untuk berbuat yang terbaik, karena itulah tujuan hidup kita sebenarnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: