Sendal Jepit lebih Berharga dari Buku?

Banyak sekali survey yang sudah membuktikan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Contohnya seperti yang diulas Media Indonesia pada 12 September 2008 (http://mediaindonesia.com) bahwa meskipun angka buta aksara turun 1,7% menjadi 10,7 juta orang sejak 2007, namun hasil survey UNESCO menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia terendah se-Asia. Menurut International Educational Achievement, siswa Indonesia menempati urutan 38 dari 39 negara yang disurvey mengenai minat baca.

Secara sepintas saya sering mengamati di ruang tunggu bandara, di dalam pesawat, di ruang tunggu RS, dan ditempat-tempat lain yang memungkinkan orang untuk duduk. Apa yang dilakukan orang-orang ini ketika hanya bisa duduk menunggu? Sebagian bercakap-cakap dengan orang disebelahnya, sebagian lagi duduk termenung atau merem menikmati “kedudukannya”. Sedikit sekali yang menghabiskan waktu dengan membaca – kecuali dalam pesawat atau ruang tunggu yang menyediakan bahan bacaan gratis.  Saya bicara tentang orang-orang Indonesia pada umumnya.

Beda dengan orang asing (baca: Bule). Mereka terbiasa kemana-mana membawa buku bacaan – fiksi atau non fiksi. Mereka terbiasa menghabiskan waktu dengan membaca; sambil menunggu waktunya borading, sambil berjemur di tepi pantai tropis atau tepi kolam renang hotel, bahkan sambil ngopi di cafe. Memang tidak semua, tapi kebanyakan mereka begitu. Mereka cenderung menggali informasi dengan membaca (bandingkan dengan kecenderungan masyarakat kita yang mencari informasi dengan menonton televisi).

Ada yang mengatakan rendahnya minat baca ini karena harga buku yang  mahal. Di India pemerintah mensubsidi buku-buku termasuk text book bahkan untuk pelajar asing (meskipun harganya mash sedikit lebih mahal dengan harga yang berlaku untuk pelajar lokal) sehingga tidak perlu membajak atau foto copy untuk dapetin buku murah. Bahkan ada usulan pemerintah mensubsidi harga kertas agar biaya produksi buku rendah dan harga buku terjangkau. Namun tetap ada yang meragukan apakah jika harga buku murah kemudian dapat menjamin meningkatnya minat baca masyarakat.

Saya punya pengalaman menarik. Suatu ketika saya membeli sebuah buku karena judulnya sangat provokatif: Hell @ Work. Dibawah judul itu ada tulisan lebih kecil: Bagaimana mengelola karyawan di kantor, namun tulisan “karyawan” dicoret dan sebagai gantinya, dibagian bawahnya tertulis “kawanan iblis” lengkap dengan gambar tombak bermata tiga simbol iblis ala barat. Isinya juga ternyata sangat menarik, ditulis dengan gaya menulis novel (o ya, saya sangat suka baca novel) sehingga tidak membosankan seperti buku-buku manajemen pada umumnya (hehe…).

Well, singkatnya, saking menariknya buku ini saya tidak bisa melepaskannya atau berhenti  membacanya. Bukunya kecil dan tipis, tapi karena saya membacanya disela-sela kesibukan bekerja, tidak bisa habis dalam waktu sehari. Dalam kesempatan keluar kota buku itu saya bawa dan saya baca disepanjang perjalanan. Sampai kemudian saya tiba di tempat penyelenggaraan suatu pelatihan di sebuah RS, karena ribet dengan barang bawaan buku itu saya geletakkan saja di kursi kosong disebelah saya baru kemudian saya mengeluarkan komputer dan mulai bekerja. Saat pelatihan selesai tanpa sadar saya lupa memasukkan buku itu kedalam tas. Ketika sampai di hotel saya ingin melanjutkan membaca baru teringat bahwa saya telah meninggalkannya di ruang pelatihan. Saya berdoa setengah mati semoga tidak ada yang mengambil buku itu karena tidak ada nama pemilik yang tercantum didalamnya. Besoknya saat kembali ke ruang pelatihan, buku itu masih tergeletak persis ditempat saya meninggalkannya. Posisinyapun tidak berubah, yang menunjukkan bahwa tidak ada yang menyentuhnya sama sekali.

Berbeda sekali kalau kita ketinggalan ..well.., katakanlah… sendal jepit yang masih bagus.. (apalagi kalau dompet atau hp) di tempat umum. Biasanya hilang seketika. Lenyap tak berbekas.

Memang ini bukan ukuran yang valid untuk menilai minat baca. Tapi setidaknya mencerminkan perilaku umum masyarakat bahwa sendal jepit lebih menarik dari buku. Oops…, maksud saya, orang-orang yang sedang dalam masa training tidak serta merta memiliki minat baca dan rasa ingin tahu yang besar, apalagi orang biasa yang merasa “tidak punya kewajiban menambah pengetahuan dengan membaca buku”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: